tTg qW
nAMa: alpian uniska
hOme: Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia
tTg qW:
Push-Button Publishing
ceLoteh qW
Archives
TentaNk sYa

......

Links

Free Blogger Templates

BLOGGER

 

 

 
  24/05/09  
 
 
ciri istri soleha (3)
Tidak Bersolek Bila Keluar Rumah
------------------------------------

Disebutkan dalam Hadits berikut:

"Wanita-wanita yang gemar minta cerai dan wanita-wanita pesolek (di luar
rumah) adalah wanita-wanita munafik". (H.R. Abu Nu'aim)

Penjelasan:
Maksud Hadits di atas ialah perempuan yang suka bersolek ketika keluar
rumah adalah perempuan munafik. Orang munafik perkataannya tidak bisa
dipercaya, janjinya tidak bisa dipegang dan kejujurannya tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, perempuan yang suka bersolek ketika
keluar rumah berarti memiliki sifat-sifat buruk.

Sifat perempuan dalam menampilkan dirinya macam-macam. Ada perempuan yang
suka bersolek, ia dapat memoles dirinya dengan baik sehingga terlihat
cantik dan kekurangannya tertutupi. Tindakannya bertujuan untuk menawan
hati orang lain, terutama lawan jenisnya. Perempuan semacam ini disebut
munafik karena selalu berpura-pura dalam menampilkan dirinya dan
menyembunyikan keadaan sesungguhnya.

Selain itu, ada perempuan yang tampil apa adanya, ia tidak mau mengenakan
macam alat kecantikan. Ia selalu menampakkan dirinya dengan polos, tetapi
memperlihatkan budi pekerti yang baik dan akhlaq yang terpuji. Ia
berpakaian sederhana apa adanya. Perempuan semacam ini lebih mengutamakan
kecantikan dan keindahan batin daripada keindahan lahirnya.

Di antara dua sifat perempuan tersebut, perempuan yang tampil apa adanya,
polos, dan sederhana itulah yang berakhlaq baik. Perempuan semacam inilah
yang seharusnya menjadi pilihan laki-laki beriman untuk dijadikan istri. Ia
bisa diharapkan untuk bersama-sama membangun rumah tangga yang penuh
kedamaian, keceriaan, kasih sayang dan kebahagiaan.

Istri yang bersolek bila keluar rumah termasuk wanita munafik karena ia
berusaha terlihat cantik di mata orang lain, bukan di hadapan suaminya. Ia
akan membuat hati suami selalu dibayangi kebimbangan. Suami menjadi selalu
khawatir jangan-jangan istrinya tidak dapat menjaga dirinya dari rayuan
laki-laki lain atau bercengkerama dengan laki-laki lain ketika dia tidak di
rumah. Ia juga bimbang bila memberi uang belanja karena mungkin sekali
istrinya menghamburkannya di luar pengetahuan suami. Ia juga sulit
mempercayai apa yang dibicarakan istrinya. Kebimbangan semacam ini tentu
dapat mengganggu ketentraman dalam rumah tangga, bahkan bisa memicu
pertengkaran.


Istri pesolek menimbulkan beban psikologis bagi suami. Kegemarannya
bersolek bila keluar rumah bisa mengundang selera laki-laki lain terhadap
dirinya. Hal ini tentu akan menimbulkan salah paham dengan suaminya. Suami
akan merasa curiga setiap saat sehingga timbul pertengkaran dalam rumah
tangga.

Selain beban psikologis, istri pesolek juga akan menimbulkan banyak problem
bagi suaminya karena kegemarannya bersolek menyebabkan suami harus
mengeluarkan banyak uang. Hal semacam ini tentu akan membebani suami, bila
pendapatan suami hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Karena begitu besarnya kendala beristri perempuan pesolek, seorang lelaki
hendaklah lebih dahulu meneliti dan mencermati calon istrinya. Jika
ternyata dia seorang yang benar-benar gemar bersolek, bahkan biasa bersolek
sejak kecil, hendaklah ia mempertimbangkan dengan seksama apakah ha itu
akan menimbulkan malapetaka atau tidak bagi dirinya kelak. Jika
kegemarannya besolek bukan kebiasaan sejak kecil, melainkan sekedar
pengeruh teman dan ada harapan untuk diperbaiki, ia harus tetap
mempertimbangkan pemilihannya, sebab boleh jadi pengaruh temannya akan
menjadi kebiasaan. Ia harus benar-benar bersikap objektif dalam menilai
kemampuannya mengayomi perempuan tersebut. Langkah terbaik adalah
mendasarkan pilihannya sesuai dengan tuntunan syari'at Islam supaya kelak
tidak menyesal.

Untuk mengetahui apakah calon istri pesolek atau bukan, dengan mudah dapat
dilihat dari penampilannya sehari-hari. Bila ia menampilkan diri secara
polos dan sederhana walaupun sebenarnya dia berkecukupan, wanita semacam
ini termasuk bukan pesolek. Akan tetapi, jika ia tampil dengan polos hanya
karena keadaan ekonominya lemah, hal ini perlu dipertimbangkan dan
diselidiki lebih jauh. Kita perlu meneliti lebih jauh penampilannya pada
saat-saat tertentu, misalya pada saat menghadiri acara pesta perkawinan,
wisuda dan lain-lain, apakah tetap tampil apa adanya atau bersolek di luar
kebiasaannya.

Ringkasnya, setiap laki-laki hendaklah memperhatikan masalah ini dengan
seksama agar kelak tidak menyesal dalam membina rumah tangga dengan
perempuan yang didambakannya. Hal ini perlu dilakukan jika ia menghendaki
rumah tangga yang dipenuhi dengan keharmonisan, kemesraan dan kebahagiaan.
Oleh karena itulah, ia hendaklah berhati-hati agar tidak memilih perempuan
yang gemar bersolek bila keluar rumah.***

Label:

posted by alpian uniska @ 05:47   0 comments
 
 
  23/05/09  
 
 
Izinkanku kembali kepadamu

Ya Allah …
begitu Malu hambaMu saat ini
malu karena hamba menghadap-Mu dalam keadaan hina ini
setelah sekian ribu kali hamba melakukan kesalahan yang sama
lebih dari itu pula Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku
kesempatan untuk bertaubat
kesempatan untuk kembali kepada-Mu
dan kesempatan untuk memperbaiki hati yang ternoda ini

Ya Allah … Yang Maha Menghidupkan
Engkau telah menghidupakn hamba ke dunia ini dalam lemah dan tiada daya
namun anugerahkanlah kepada hamba kekuatan untuk tetap istiqomah dalam iman dan islam hamba
Engkau hidupkan kami untuk berlomba-lomba menempuh jalan-Mu … untuk menjadi yang terbaik di sisi-Mu

Namun, segala pemberian dan anugerah dari-Mu
selalu kubalas dengan dosa dan maksiat kepada-Mu

begitu malunya hamba-Mu ini pada-Mu
masihkanh ada jalan bagitu untuk kembali mendekat kepada-Mu walopun dengan segala noda hitam dihatiku ??

ya Allah… Yang Maha Mematikan
Jikalau sesaat setelah kutulis bait-bait penyesalan ini
Engkau memanggilku ke hadirat-Mu
maka izinkanlah hamba untuk kembali kepada-Mu dalam suci dan tulusnya Taubat Nasuha
Taubat Nasuha atas segala dosa-dosa yang selalu hamba lakukan dihadapan-Mu

Panggilah hamba dalam Ridho-Mu bukan dalam Murka-Mu
dan begitu besar harapan hamba pada-Mu ini untuk menghadap-Mu dalam mengucap lafadz

“LAA ILAA HA ILLALLAAH”
“MUHAMMAD RASULULLAH”

juga dalam keadaan khusnul khotimah

Ya Allah Yang MAha Mengampuni (ya Ghaffaar, ya Ghofuur)
hamba kembali kepada-Mu ya Allah
dari jalan yang penuh dengan godaan syetan menuju jalan-Mu yang bermandikan cahaya ridho-Mu
Izinkanlah kami untuk kembali mensucikan hati yang kotor dan berkarat ini
izinkanlah kami untuk memperbaiki hati hamba
walaupun tidak sesempurna saat hamba lahir kedunia
namun, kucoba perbaiki dengan bermujahadah di jalanmu,
untuk menghadap-Mu dengan hati yang lebih baik , bersih dari kotoran hati dan karat hati ..
Amiin ya Rabbal ‘Aalamiin
posted by alpian uniska @ 05:36   0 comments
 
 
   
 
 
Ciri Istri soleha (2)
Tidak Materialis
--------------------


Dalam Hadits berikut disebutkan:

Dari Ibnu 'Abbas ra, ujarnya: Rasulullah SAW bersabda:
"Ada empat perkara, siapa mendapatkannya berarti kebaikan dunia dan akhirat, yaitu hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, bersabar ketika mendapatkan
musibah, dan perempuan yang mau dikawini bukan bermaksud menjerumuskan
(suaminya) ke dalam perbuatan maksiat dan bukan menginginkan hartanya."
(H.R. Thabarani, Hadits Hasan)

Disebutkan juga dalam Hadits berikut bahwa:
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya wanita yang membawa berkah yaitu bilamana ia mudah dilamar, murah maskawinnya, dan subur peranakannya."
(H.R. Ibnu Hibban, Hakim, dan lain-lain, dari 'Aisyah).

Penjelasan:
Materialis adalah sifat lebih mengutamakan materi dan cenderung tidak mau
mengeluarkan hartanya untuk kepentingan orang lain atau kepentingan
kebajikan umum.

Wanita materialis mengukur derajat dan martabat seorang laki-laki
semata-mata dari sisi harta kekayaannya. Ia mau menjadi istri seseorang
asalkan yang bersangkutan mampu memenuhi tuntutan-tuntutan materinya. Ia
selalu medambakan kemewahan dan bertumpuknya harta kekayaan tanpa
mempedulikan halal dan haramnya.

Maksud Hadits pertama ialah perempuan yang baik dijadikan istri antara lain
karena tidak bermaksud mengejar harta dan tidak pula menjerumuskan suaminya
untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Misalnya mendorong suaminya untuk
mencari harta sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara haram atau hanya
mengeruk harta kekayaan suami dan meninggalkannya bila suami jatuh miskin.

Hadits kedua menerangkan bahwa salah satu ciri wanita yang tidak
materialis. Perempuan semacam ini kelak akan membawa berkah bagi
keluarganya karena mau menerima keadaan suami sehingga tidak menyulitkan
suaminya dalam memenuhi kebutuhan keluarga kelak. Sikap semacam inilah yang
dapat menciptakan suasana keluarga penuh dengan rasa riang dan bahagia.

Dalam memilih calon istri kita diperintahkan agar mencari wanita yang ridha
menerima mahar sedikit, walaupun laki-laki dianjurkan untuk memberikan
mahar yang banyak kepada calon istrinya seperti yang disebutkan dalam Q.S.
An-Nisaa' ayat 4 :
"Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) dengan maskawin yang
menyenangkan ..."

Untuk mengetahui apakah calon istri materialis atau tidak, dapat dilakukan
cara-cara antara lain:

1. Menanyakan kepada teman-teman dekatnya atau tetangga dekatnya tentang
sikap-sikapnya dalam bidang materi. Misalnya, kita teliti apakah dia senang
berteman dengan orang-orang kaya saja atau juga dengan orang-orang miskin.
Kita amati sikapnya apakah mau meminjamkan sesuatu kepada orang yang miskin
atau hanya mau meminjamkan sesuatu kepada yang kaya. Kita amati juga apakah
dalam menilai keadaan seseorang ia hanya melihat sisi materinya atau ia
lebih memperhatikan sisi akhlaq dan kepandaiannya.

2. Mengamati pola kehidupan keluarganya apakah mereka hanya bergaul dengan
orang-orang kaya atau dengan semua kalangan.

3. Mengujinya dengan memberikan hadiah yang murah apakah apakah ia memberi
komentar menyepelekan atau tidak.

Dengan cara-cara ini diharapkan laki-laki yang akan mempersunting seorang
perempuan dapat mengetahui dengan jelas apakah sifatnya materialis atau
qana'ah (menerima apa adanya) dan menjauhi kemewahan.

Laki-laki yang bertujuan mewujudkan keluarga islami dalam rumah tangganya,
hendaklah benar-benar memilih calon istri yang tidak materialis. Hal ini
dimaksudkan agar keluarganya dapat hidup berbahagia, sejahtera, penih
ketentraman, kasih sayang sesuai dengan peraturan Islam.***



Dalam Hadits berikut disebutkan:

Dari Ibnu 'Abbas ra, ujarnya: Rasulullah SAW bersabda:
"Ada empat perkara, siapa mendapatkannya berarti kebaikan dunia dan akhirat, yaitu hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, bersabar ketika mendapatkan
musibah, dan perempuan yang mau dikawini bukan bermaksud menjerumuskan
(suaminya) ke dalam perbuatan maksiat dan bukan menginginkan hartanya."
(H.R. Thabarani, Hadits Hasan)

Disebutkan juga dalam Hadits berikut bahwa:
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya wanita yang membawa berkah yaitu bilamana ia mudah dilamar, murah maskawinnya, dan subur peranakannya."
(H.R. Ibnu Hibban, Hakim, dan lain-lain, dari 'Aisyah).

Penjelasan:
Materialis adalah sifat lebih mengutamakan materi dan cenderung tidak mau
mengeluarkan hartanya untuk kepentingan orang lain atau kepentingan
kebajikan umum.

Wanita materialis mengukur derajat dan martabat seorang laki-laki
semata-mata dari sisi harta kekayaannya. Ia mau menjadi istri seseorang
asalkan yang bersangkutan mampu memenuhi tuntutan-tuntutan materinya. Ia
selalu medambakan kemewahan dan bertumpuknya harta kekayaan tanpa
mempedulikan halal dan haramnya.

Maksud Hadits pertama ialah perempuan yang baik dijadikan istri antara lain
karena tidak bermaksud mengejar harta dan tidak pula menjerumuskan suaminya
untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Misalnya mendorong suaminya untuk
mencari harta sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara haram atau hanya
mengeruk harta kekayaan suami dan meninggalkannya bila suami jatuh miskin.

Hadits kedua menerangkan bahwa salah satu ciri wanita yang tidak
materialis. Perempuan semacam ini kelak akan membawa berkah bagi
keluarganya karena mau menerima keadaan suami sehingga tidak menyulitkan
suaminya dalam memenuhi kebutuhan keluarga kelak. Sikap semacam inilah yang
dapat menciptakan suasana keluarga penuh dengan rasa riang dan bahagia.

Dalam memilih calon istri kita diperintahkan agar mencari wanita yang ridha
menerima mahar sedikit, walaupun laki-laki dianjurkan untuk memberikan
mahar yang banyak kepada calon istrinya seperti yang disebutkan dalam Q.S.
An-Nisaa' ayat 4 :
"Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) dengan maskawin yang
menyenangkan ..."

Untuk mengetahui apakah calon istri materialis atau tidak, dapat dilakukan
cara-cara antara lain:

1. Menanyakan kepada teman-teman dekatnya atau tetangga dekatnya tentang
sikap-sikapnya dalam bidang materi. Misalnya, kita teliti apakah dia senang
berteman dengan orang-orang kaya saja atau juga dengan orang-orang miskin.
Kita amati sikapnya apakah mau meminjamkan sesuatu kepada orang yang miskin
atau hanya mau meminjamkan sesuatu kepada yang kaya. Kita amati juga apakah
dalam menilai keadaan seseorang ia hanya melihat sisi materinya atau ia
lebih memperhatikan sisi akhlaq dan kepandaiannya.

2. Mengamati pola kehidupan keluarganya apakah mereka hanya bergaul dengan
orang-orang kaya atau dengan semua kalangan.

3. Mengujinya dengan memberikan hadiah yang murah apakah apakah ia memberi
komentar menyepelekan atau tidak.

Dengan cara-cara ini diharapkan laki-laki yang akan mempersunting seorang
perempuan dapat mengetahui dengan jelas apakah sifatnya materialis atau
qana'ah (menerima apa adanya) dan menjauhi kemewahan.

Laki-laki yang bertujuan mewujudkan keluarga islami dalam rumah tangganya,
hendaklah benar-benar memilih calon istri yang tidak materialis. Hal ini
dimaksudkan agar keluarganya dapat hidup berbahagia, sejahtera, penih
ketentraman, kasih sayang sesuai dengan peraturan Islam.
posted by alpian uniska @ 05:30   0 comments
 
 
  21/05/09  
 
 
Cewek Komersil, Apaan Tuh…???


Cewek cantik disukai cowok itu wajar dan sah-sah aja. Tapi sahkah kalau cewek memanfaakan kecantikannya untuk banyak nuntut, khususnya soal duit?

Cewek seperti itu disebut cewek komersil. Yakni cewek yang ‘jago’ banget manfaatin kecantikannya untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Itu seperti yang digambarkan sebagai sosok Anita (Nama samaran), Ia cantik, seksi dan pintar. Dengan kelebihannya itu, ia sukses mindahin isi kantong cowok-cowok keren ke dompetnya. Lihat aza, mulai uang jajan, biaya kuliah, pasang telpon rumah, beli HP berkamera ampe pengobatan ibunya, ia kagak perlu meres keringat. Cukup dengan menebar pesona kesana kemari, duit mengalir kekoceknya.

Emang sih, cowok-cowok itu ngaku ngasih tanpa pamrih alias Anita nggak perlu ngasih balesan apapun. Sampai jadi pacar, simpanan atau menyerahkan harga diri misalnya. Tapi, dalam hati siapa tahu. Yang jelas, cukup dengan bersilat lidah, mimik memelas dan wajah nelongso, banyak korbanya yang rela merogoh koceknya sampe yang paling dalem sekalipun.

Dengan perilaku seperti itu, emang Anita dianggap berjasa banget , bisa bantu ekonomi ibunya yang janda. Tapi, bener nggak sih perilaku kayak gitu? Masak iya, memanfaatkan kecantikannya buat ngedapetin doku?
Pro-kontra cewek komersil

“Banyak orang yang bilang kalau sah-sah aja jadi cewek komersil. Itu namanya memanfaatkan potensi diri. Lumayan kan, nggak perlu banting tulang, peras keringan dan mutar otak, ada yang ngasih duit. Anggap aza itu hadiah, rezeki nomplok,”

Lain lagi komentar saya. Menurut saya, jadi cewek komersil itu bisa menjatuhkan harga diri. Kesannya jadi cewek murahan dan gampangan, githu lho! “Lagian bahaya kalau kena batunya. Cowok-cowok korban cewek komersil yang sebetulnya mengharapkan kecantikan tuh cewek, bisa ngamuk kalau keinginannya nggak terpenuhi. Kan gawat kalau mereka sampai nuntut balas budi, sampai diperkosa misalnya. Hiii…..ngak mau kan lo..! ”.

Lantas kenapa orang mau jadi cewek komersil? motifnya bisa macam-macam bro.. Misalnya karena terdesak problem ekonomi (yah, contohnya kayak Anita itu), karena pengin tampil borju tapi kagak punya modal trus malu ama temen, atawa karena dendam ama cowok. Dendam? “Iya , karena pernah disakiti cowok misalnya, trus tuh cewek pengin nyakitin balik cowok-cowok manapun. Caranya, dengan seolah-olah ngasih harapan ke cowok, tapi sebetulnya cuma pengen meres aza,” Wah, jangan-jangan pengalaman pribadi nih (ga donk, penulis kan cowok) huhuhu….!

“Kalau menurut temen-temen saya, motifnya karena pengin senang-senang aza. Fun-fun-lah, mumpung masih muda dan cantik. Tahu kan, zaman sekarang kalau pengen gaul, musti cakep. Jadi butuh modal dong!”. Gimana menurut kamu…???
Gaya hidup matre

Salah satu pendorong munculnya generasi cewek komersil adalah merebaknya gaya hidup borju. Tanda-tandanya ini, hidup butuh banyak modal. Sekarang ini, segala sesuatu kudu pake doku. Nggak heran kalau? cewek-cewek yang tipis imannya, bakal ambil jalan pintas, menghalalkan segala cara.Anita sih nggak seberapa , ada yang lebih parah. Misalnya ada yang berani nipu, maling atau ngejual diri (na’udzubillah min dzalik). Semua itu dilakoni demi UUD ( ujung-ujungnya duit). Soalnya hanya dengan duit, segala urusan bakal lempeng kaya jalan tol. Mo tampil borju, trendi dan gaya gampang. Mo punya banyak temen, mudah. Mo sekolah setinggi-tingginya sampe ke bulan kagak perlu repot. Pendek kata, ada duit, urusan lancar. Makanya kalau problem ekonomi keluarga bisa jadi pemicu munculnya cewek komersil, iya ngk..?

Selain itu, azas manfaat bisa juga jadi faktor penumbuh suburnya perilaku cewek komersil. Dengan memanfaatkan kecantikan dan kemolekannya, cewek komersil dengan mudahnya bisa meraih segala impiannya. Tanpa rasa berdosa, cewek komersil dengan leluasa memanfaatkan kebaikan cowok kepadanya untuk memperoleh harta. Emang sih, nerima hadiah dalam ajaran Islam boleh-boleh saja, asal bukan hadiah sebagai pelicin suatu urusan. Tapi, kalau ada cowok begitu mudah ngasih barang berharga pada cewek cakep, masak iya nggak ada udang di balik tepung? ( itu sih bakwan he…he? )

Suer, percaya deh! Sebenarnya cowok macam begitu juga mengharapkan balas jasa. Meski di depan mata bilang ikhlas, tapi dari lubuk hati yang paling dalam punya ambisi besar, misalnya mau ngedapatin kepuasan sementara dari doi. Nah, kalau udah gitu, tentu aja urusannya bisa berabe, bahaya !

Gaya hidup borju dan azas manfaat? itu sendiri, muncul dari ideologi kapitallis sekuler. Itu lho,ajaran barat yang misahin agama dari kehidupan. Menurut ajaran ini, halal haram bukan standar untuk berbuat, tapi azas manfaat. Artinya, selama suatu perbuatan dinilai bermanfaat oleh individu, maka akan dilaksanakan, sekalipun dalam pandangan Islam perbuatan tersebut terkatagori haram. Misalnya, kalau menjual diri bisa dapat duit, ya akan dilakukan (amit-amit).

Azas manfaat dalam ideologi ini diukur dengan materi dan kepuasan individu. Selama perbuatan mendatangkan materi atau memuaskan dirinya, dengan serta merta akan dilaksanakan. Makanya, kalau ngikuti gaya hidup kaplitalis ini, semuanya diukur dengan materi. Materi atau harta adalah segala-segalnya. Orang bisa dikatakan bahagia kalau punya banyak dan makin banyak materi.
Jangan tertipu duniawi b0z…

Tentu saja, gaya hidup matre berdasar azas manfaat itu nggak dibenarkan.

Pertama, karena Islam mengajarkan halal-haram sebagai standar perbuatan kita. Artinya, sekalipun mengandung manfaat, jika perbuatan tersebut dilarang Allah, maka tidak boleh dilaksanakan. Mengumbar kecantikan emang mendatangkan materi, tapi Allah mengharamkannya karena Islam melarang tabaruj (menampakan kecantikan). Sebaliknya, Allah memerintahkan perempuan untuk menutup aurat? dan berpakaian dengan sempurna.

Kedua, dalam konsep pergaulan cowok-cewek, Islam punya rambu-rambu. Misalnya nggak boleh dua-duaan (khalwat), campur baur tanpa kepentingan yang di bolehkan? (ikhtilat) dan harus saling menundukkan pandangan (nggak boleh ngeliat aurat atau ngeliat dengan syahwat).

Ketiga, Islam mengajarkan pola hidup sederhana. Bukannya ngelarang kamu-kamu menikmati kesenangan dunia, tapi kebahagiaan dunia bukanlah diukur dari materi. Apalagi kalau diperoleh dengan cara-cara yang nggak disukai Allah. Kebahagiaan adalah ketika Allah ridho dengan perbuatan kita, yakni sesuai dengan perintah-Nya. Jadi, kamu kudu bisa ngimbangi dunia dan akhiratmu. Gaya borju dan matre hanya tipuan duniawi.

Nah kalau jadi cewek komersil, otomatis rambu-rambu itu musti dilanggar, kan! Kalau nggak, gimana bakal dilirik cowok? Jadi, nggak usah coba-coba jadi cewek komersil deh, ntar nyesel seumur hidup lho..!
posted by alpian uniska @ 22:36   0 comments
 
 
  20/05/09  
 
 
Bografi Abah Guru

Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin
Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa'ad bin Abdullah bin al-Mufti
Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh
Muhammad Arsyad al-Banjari.

Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil
dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf
dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama,
sedangkan adiknya bernama H Rahmah.

Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu
tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.

Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu
berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang
memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam
pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar
membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul
Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.

Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu
pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama.
Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal
Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium
tangannya.

Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan "formal"
masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa
ini antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H.
Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi'i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H.
Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan
pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Pada masa ini beliau
sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan
seperti al-Alim al-Fadhil Sya'rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri,
al-Alim al-Fadhil Salim Ma'ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim
Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya'rani Arif, al-Alim al-Fadhil
al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir
merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.

Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat ini adalah tokoh-tokoh
besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Dari yang saya kenal
saja secara khusus adalah KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti
Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah
Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, sempat kita temui ketika masih
hidup. Syaikh Seman Mulya adalah pamanda beliau yang secara intensif mendidik
beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika
mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung
bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman
langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal
dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan)
maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits
dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah
Syaikh Anang Sya'rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut
Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah
pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan
tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.

Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu
faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui
ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al-marhum KH. Hanafiah Gobet).
Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang
tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali
berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan
kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim
besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang
sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.

Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwani
Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi.
Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan
beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). Dari beberapa guru
beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah),
Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar.
Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi
(Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti
Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah
Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana
sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu
beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumblah
kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam
terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah).

Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil
betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia;
penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang
yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti
misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah
sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.
Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari
hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.

Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang
pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat
dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun.
Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan
untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan
sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita-cerita
tu.

Beberapa cerita yang masih saya ingat. Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang
terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji
telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengelu.
Pada masa-masa itu juga, ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap ali ada
sisa teh, ayahnda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan
kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan
diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan
bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk
menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan
sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal
ini, "bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu." Pernah sewaktu kecil
beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian
sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau,
"Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur." Beliau langsung
berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.

Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan:
Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir
Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang
ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika
beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa
kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh
Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak
ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi "bodyguard' beliau.
Beliaupun langsung pulang ke rumah.

Pada usia 9 tahun pas malam jum'at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar
turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah
putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis "Sapinah al-Auliya". Beliau ingin
masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada
malam jum'at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam
jum'at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau
dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk,
beliau melihat masih banyak kursi yang kosong.

Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak
dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang
yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut. (Sayang saya lupa nama syaikh
tersebut, semoga saja beberapa kawan dan anggota jamaah yang juga hadir sewaktu
pengajian umum di PP. Al-Falah, Banjarbaru, Kal-Sel saat itu ada yang bisa
mengingatkan saya nama syaikh tersebut).

Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu
dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah
anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan
pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah
atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah
istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya
karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi "bakarmi"
(orang yang keluar sesuatu dari duburnya).

Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau
juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang.
Karena itu, beliau menolak undangan Soeharto untuk mengikuti acara halal bil
halal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya
beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati
atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau
tidak tepat.

Kemarin, Rabu 10 Agustus 2005 jam 05.10 pagi beliau telah berpulang ke
rahmatullah pada usia 63 tahun. Dulu almarhum Guru Ayan (Rantau), salah seorang
syaikh yang dikenal kasyaf pernah menyampaikan bahwa kehidupan Syaikh M. Zaini
Ghani itu seperti Nabi. Bahkan usia beliau pun sama seperti usia Nabi. Salah
seorang murid dekat Guru Ayan, yaitu M. Yunus (kaka kelas saya di PP. Alfalah)
pernah mencoba melihat-lihat ciri-ciri hissiyahnya. Salah satu yang menjadi
sorotannya adalah kepindahan Beliau dari Keraton Martapura ke wilayah Sekumpul
seperti Rasulullah s.a.w. hijrah (dan beberapa hal lainnya). Dan sekarang,
ucapan tersebut terbukti. Kebetulan? Wallahu A'lam.

Beberapa karamah dan riwayat hidup beliau yang lain bisa dibaca dari
pemberitaan dan tulisan-tulisan di http://www.indomedia.com/bpost dan di
www.radarbanjar.com. Apa yang saya tulis di sini sebagian besar langsung saya
dapatkan sendiri dari penuturan beliau dan apa yang saya lihat secara langsung.

Label:

posted by alpian uniska @ 05:43   0 comments
 
 
   
 
 
Ngapain Sih Kudu Dugem bOs..??


Kamu tahu kan istilah dugem? Hehehe.. bukan dunia gembel atau duduk gembira, tapi ini akronim dari dunia gemerlap. Lho, memangnya ada ya dunia yang suram? Ah, kamu pura-pura nggak tahu deh. Ya, iyalah, kalo ada siang berarti ada malam, kalo ada cowok, berarti pasangannya cewek, kalo ada hujan berhadapannya dengan kemarau. Begitupun dengan dunia gemerlap, berarti berlawanan dengan dunia suram.

Kalo dunia gemerlap orang sepakat menyebut dunia yang penuh hura-hura, suka-suka, seneng-seneng, dan serba mudah dengan apa yang kita pengen, maka dunia suram adalah dunia yang udah bisa hidup aja untung, sehari bisa makan pun sudah alhamdulillah, pengen hiburan cukup nonton tivi tetangga atau di pos ronda, mau selimut cukup sarung kumal, mau rokok juga joinan ama temen, mau minum kopi segelas bertiga. Ya, orang sepakat “menggalari” kehidupan seperti ini dengan madesu alias masa depan suram atau dusur alias dunia suram. Lawannya tentu saja dugem atawa dunia gemerlap.

Bro en Sis, istilah dugem tuh sebenarnya digunakan buat ajang suka-suka, hura-hura, buang-buang duit (kata orang banjar). Pesertanya nggak perlu juga orang kaya, adakalanya peserta dugem adalah mereka yang dari segi ekonomi pas-pasan atau bahkan kurang mampu. Tapi ketolong sama temennya yang tajir dan seneng gaul, akhirnya jadi deh ikutan ditraktir biar bisa dugem bersama. Bagi mereka biar habis duit asal asoy geboy. Halah, cemen banget cieh niatnya ya..?
Mending traktir Alfi makan bakso ya…
Huhu… (Ngarep nih)…

Tapi umumnya sih mereka yang suka dugem emang dasarnya udah tajir dari segi ekonomi. Nggak kesulitan kalo soal makan. Justru yang model kayak gini hanya kesulitan untuk nyari tempat makan yang pas dan enak menurut selera mereka.
kok kita jadi ngurusin orang cari tempat makan sih…!!!
Ngiri yawh…
He…

Trus kalo remaja ada nggak yang suka dugem? Ada aja. Buktinya ajib..ajib.. tertentu ramai pengunjungya. Ada juga anak muda seumuran kamu yang di SMA atau paling banter anak kuliahan. Maklumlah, pelajar dan mahasiswa juga manusia, punya keinginan untuk suka-suka, senang-senang, hura-hura dan jaga gengsi dengan nongkrong di tempat makan atau tempat gaul yang bikin gengsi melambung. Kalo cuma makan di tempat nasi uduk biasa atau bubur ayam yang dijual keliling pake gerobak dan kita ngetem ama temen-temen di pos ronda itu sih kebangetan karena bikin nilai gengsi kita melorot.

Sobat muda muslim, bukan soal jajanan, makanan, atau tempat nongkrong yang enak dibuat dugem, tapi dugem bisa juga soal dandanan dan gadget yang bisa nunjukkin diri ke orang-orang bahwa, “gue anak gaul, gue biasa dugem, lihat dong pakaian dan gadget gue”. Gitu kira-kira yawh sobat..

Maka, di tengah kemajuan jaman saat ini, kita bisa memoles penampilan diri, bisa menjual diri kita di hadapan orang lain. Lihatlah, sarana informasi untuk itu udah banyak, kamu bisa gabung di situs jejaring sosial, bikin blog yang udah disediain secara gratis, bikin website, aktif di komunitas dunia maya, aktif di klub pencinta motor modif, penggemar sepeda tua, penggemar mobil tua, dan banyak ragamnya yang lain. Kamu bisa nunjukkin eksistensi kamu di sana. Ya, selama kegiatanya bermanfaat dan tidak melanggar hukum syara silakan saja.

Cuma emang nggak berhenti di situ. Namanya juga ajang kumpul-kumpul bareng teman, apalagi satu sama lain saling pamer apa yang dimilikinya, bukan tak mungkin kalo akhirnya jadi berubah sebagai ajang lomba nunjukkin eksistensi diri yang berlebihan. Jangankan di komunitas yang masih umum sekadar menyalurkan hobi, di komunitas anak ngaji aja adakalanya pamer ilmu pengetahuan dan kualitas akhlak. Selama untuk saling memotivasi diri, nggak ada salahnya. Tapi mohon maaf aja ya, kita masih khawatir kalo akhirnya terjerumus ke dalam riya’ atau malah kebablasan jadi pamer harta demi identitas diri agar bisa eksis di komunitas gaul kita. Bukan tak mungkin kalo akhirnya dugem juga deh.

So, bagi kita, barangkali punya HP aja udah seneng bukan kepalang. Dengan begitu, komunikasi jadi lancar. Apalagi kalo kita orangnya mobile banget. Cocok. Tapi nggak bagi teman-teman kita yang ngakunya remaja dugem. Bagi mereka, fungsi saja nggak cukup. Selain bisa dipake ngobrol ngalor-ngidul, HP kudu gaul dan menghibur. Coba aja, hampir tiap bulan produk teknologi komunikasi ini perkembangannya melompat-lompat. Kita-kita mah nggak bisa ngikutin deh. Maksudnya, nggak tahan. Baru liat model yang menurut kita udah hebat, eh, bulan berikutnya udah ganti lagi dengan fitur-fiturnya yang mengoda. Jadi nggak beli-beli deh. Selain bingung milih, duitnya kagak ada, Bro. Idiih malu-maluin?

Bisa kebayangkan, kalo tiap bulan muncul produk HP baru, itu makin bikin remaja dugem tergoda pengen gonta-ganti ponsel hingga akhirnya kudu bolak-balik ke warteg (baca: warung telepon genggam). Begitulah gaya mereka. Hmm.. apa nggak boros tuh?


Dugem juga ada klasifikasinya:

Dugem alias dunia gemerlap adalah gaya hidup yang menuntut serba keren, cool, trendi dan mewah. Para penggila dugem ini berusaha abis-abisan untuk tampil prima, khususnya di depan orang lain. Mulai dari bacaan, makanan, busana, tontonan sampai tongkrongan. Kalo bacaan biasanya majalah-majalah yang banyak memuat soal mode, gosip artis en tips bergaul dengan sesama dugemer (aktivis dugem). Ini penting, soalnya kalau seorang remaja dugem ketinggalan berita maka bakalan terlempar dari arena pergaulan para dugemer. Biasanya, yang diobrolin seputar tempat nongkrong yang baru en asyik punya (nggak termasuk WC umum, lho), gosip artis, film bioskop macam ‘Terminator Salvation’ versi teranyar dari ‘Terminator’ atau film sekuelnya The Da Vinci Code, ‘Angels and Demons’, kalau olahraga pastinya sepak bola - apalagi menjelang Final Liga Champion Eropa yang mempertemukan Manchester United, tim Inggris dengan pertahanan terkokoh sepanjang musim ini dengan Barcelona, tim dengan strategi menyerang dan tersubur musim ini–, NBA atau balapan F1 dan MotoGP. Canggihan dikit mereka bicara soal internet atau handphone keluaran paling anyar. Ngobrolnya bisa di rumah temen yang kagak bikin boring atawa bete, atau kalau lagi tajir bisa juga di caf?. Kalau di masjid kayaknya sih nggak deh, mungkin takut kualat. Hahaha…

Bikin kantong bolong

Apa sih bahayanya dugem? Yang jelas biaya hidup untuk jadi remaja dugem itu nggak kecil. Sebaliknya, justru dengan maraknya gaya hidup dugem ini, udah berapa juta uang melayang percuama. Ujungnya memang menciptakan remaja-remaja borju. Menciptakan rasa persaingan di antara mereka dengan persaingan yang nggak pada tempatnya. Iya dong. Sebab, mereka berlomba dalam dunia gemerlap. Apa nggak puas dengan apa yang dimiliki selama ini? Sehingga kudu berlomba ngadain pesta ultah di diskotik, di hotel berbintang. Atawa sekadar gonta-ganti HP dengan yang highend biar bisa main facebook-an dari ponsel, bawa mobil keluaran terbaru. Hmm… itu semua harus dibeli dengan uang. Bukan daun. Sekali lagi uang. Bener-bener bikin kantong bolong deh.

Bisa kamu bayangkan, jika untuk tampil dugem, seorang remaja kudu mengeluarkan uang rata-rata 300 ribu perak seminggu. Sebulan udah 1,2 jute rupiah tuh duit menyublim untuk dugem. Kira-kira, berapa penghasilan ortunya? Atau kalo nggak punya, udah ngutang berapa tuh sama temennya? Duh, sayang banget uang segitu banyaknya cuma dipake untuk hura-hura. Coba kalo diinfakkan ke masjid atau shadaqah ke fakir miskin, udah jelas pahalanya.

Bro en Sis, fenomena ini bikin miris kita. Terus terang aja kita prihatin dan merasa kasihan sama teman-teman kita yang udah terlanjur jadi aktivis dugem. Kita khawatir, kalo nanti ada banyak remaja yang perutnya udah nggak bisa lagi menerima makanan murah, karena kebanyakan diisi makanan mahal baik produk lokal maupun produk bule, apalagi yang masih belum jelas halal-haramnya. Gawat tuh..!!!

So, nyata banget dugem emang bikin kantong bolong. Yup, dugem telah menciptakan remaja-remaja yang boros dan nggak menghargai rizki yang selama ini diberikan kepadanya dari Allah Swt. Kasihan banget ya remaja kita sekarang..?


Bikin keras hati

Kebanyakan main bareng teman yang sok gengsi dan doyan hura-hura hamburin duit, kudu hati-hati. Bisa-bisa kita jadi ikutan gaya hidupnya. Namanya juga gengsi yang diprioritaskan, nggak heran dong kalo yang dilihat selalu masalah gaya, alias penampilan. Dan untuk itu, uang yang bicara dong. Uang dan uang. Ujungnya, kita bisa jadi nggak peduli sama tetangga kanan-kiri. Tetangga sebelah kanan kita menjerit kelaparan, kita asyik dengan makanan mahal dan doyan nonton konser musik yang karcisnya untuk sekali masuk bisa mencapai harga 100 mangkuk bakso.
Itu artinya kamu udah punya hati sekeras batu. Kamu nggak gampang terenyuh dengan penderitaan teman or tetangga kamu. Kamu masih bisa tertawa di atas penderitaan orang lain. Minimal, cuek. Sikap kayak gitu pun udah jelek banget. Iya nggak sih?

Sobat muda muslim, terus terang kita nggak abis pikir. Coba aja bayangin, waktu tanggul Situ Gintung jebol, itu kan pas lagi rame-ramenya kampanye parpol menjelang pemilu dan konser-konser musik banyak digelar, serta film-film terbaru di bioskop jadi inceran. Coba deh, warga Situ Gintung yang kena ‘tsunami kecil’ nunggu antrian untuk ditolong, eh, sebagian yang lain, dari kita-kita ini, malah rebutan dan rela antri hanya untuk dapetin karcis bioskop 21 atau tiket konser dan ikutan pesta kampanye parpol.

Apakah rasa peduli kita udah pudar ditelan jaman? Apa iya kita tega menyaksikan saudara-saudara kita yang lagi menderita? Rasanya, jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, mungkin masih tersisa setitik perasaan iba kita. Namun perasaan itu nyaris tak bisa terdeteksi, karena kalah dengan gaya hidup dugem yang emang udah nguasai dirimu. Padahal, dalam sebuah riwayat dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.”(HR at-Tabrani)

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Nah, teman-teman muslim. Apakah kita mau mengorbankan hati nurani, keimanan dan ukhuwah kita hanya untuk mengikuti gaya hidup yang gemerlap tanpa juntrungan, apalagi melanggar syariat? Sayang banget hidup ini hanya disia-siakan. Lebih baik kita isi hari-hari kita dengan hal-hal yang lebih baik.
posted by alpian uniska @ 02:15   1 comments
 
 
   
 
 
Ciri Istri soleha (1)
Taat Beragama
----------------

Rasulullah SAW bersabda :


"Perempuan itu dikawini atas empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena
keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi,
pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat." (H.R. Bukhari dan
Muslim)

Penjelasan :
Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai kriteria-kriteria yang menjadi
bahan pertimbangan seorang lelaki dalam memilih seorang perempuan sebagai
istrinya. Kriteria-kriteria tersebut adalah kecantikan, keturunan,
kekayaan, dan agamanya. Orang yang mengutamakan kriteria agama, dijamin
oleh Allah SWT akan memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga.

Agama atau di’in ialah keyakinan yang disertai peribadatan sesuai dengan
ketentuan syari'at Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan
seseorang menyimpang dari ketentuan syari'at Islam, orang yang melakukannya
telah sesat. Untuk mengetahui ketaatan seseorang beragama, kita harus
berpedoman pada ketentuan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dalam memilih seorang perempuan untuk dijadikan istri, pertama kali
hendaklah kita menilai ketaatannya dalam beragama seperti yang disabdakan
oleh Rasulullah SAW dalam Hadits di atas.

Tanda utama seseorang dikatakan taat beragama yaitu bila ia dapat
menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar.

Orang yang beriman kepada Allah hanya meyakini ketentuan-Nya. Ia tidak akan
mempercayai ramalan ahli nujum dan peramal misalnya, sebab orang yang
mempercayai ramalannya berarti tidak sepenuhnya beriman kepada Allah SWT.
Perbuatan seperti itu disebut SYIRIK karena berlawanan dengan keyakinan
bahwa hanya Allah SWT yang tahu segala yang ghaib. Orang yang berbuat
syirik telah sesat.

Tanda lain seseorang dikatakan taat beragama adalah bila ia menjalankan
ibadah yang diperintahkan oleh Islam dengan tekun dan benar. Ibdah pokok
dalam Islam dan tidak dapat ditinggalkan adalah shalat. Siapa pun yang
telah memeluk Islam harus melaksanakannya. Rasulullah SAW telah menyatakan
bahwa shalat adalah hal yang pokok dalam Islam. Hal ini disebutkan dalam
Hadits berikut:

Dari Abu Hurairah Ra, ujarnya: Rasulullah SAW bersabda:
"Perbuatan manusia
yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila
shalatnya baik, dia akan beruntung dan selamat. Akan tetapi, bila shalatnya
tidak benar, dia akan gagal dan merugi. Jika ada yang kurang sedikit dari
kewajiban yang dilakukannya, kelak Tuhan yang Maha Gagah dan Maha Mulia akan
berfirman: '(Wahai Malaikat), perhatikanlah apa hamba-Ku ini melakukan
shalat sunnah sehingga dapat menyempurnakan kekurangannya dalam melakukan
shalat wajib, kemudian semua amalnya akan dihisab dengan cara seperti
ini.'"(H.R. Tirmidzi, Hadits hasan)

Maksud Hadits ini ialah seseorang dinilai taat beragama bila ia menunaikan
kewajiban shalat dengan benar. Seseorang yang mengaku muslim tetapi
terkadang menjalankan shalat, terkadang tidak, berarti tidak taat beragama.
Bila ia melakukan shalat tetapi tidak mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,
shalatnya tidak benar. Orang semacam ini termasuk orang yang tidak taat
beragama.

Seorang laki-laki yang hendak menilai ketaatan calon istrinya, haruslah
lebih dulu mengerti ajaran Islam tentang keyakinan dan peribadatan secara
benar sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Bila
dia sendiri tidak tahu hal-hal yang menjadi ketetapan dan hal-hal yang
bukan menjadi ketetapan Islam, tentu dia tidak akan bisa memilih calon
istri yang taat beragama dengan benar menurut ketentuan syari'at Islam.

Kita tidak seharusnya mudah terpesona dengan penampilan seorang perempuan.
Perempuan berjilbab, misalnya, dalam pergaulan sehari-hari ia ternyata
bercampur dengan laki-laki bukan mahram tanpa mengindahkan batas norma
pergaulan yang digariskan oleh Islam. Kita bisa menyimpulkan bahwa wanita
semacam ini jelas tidak taat beragama.

Kita tidak semestinya menilai perempuan berdasarkan atas ukuran dan norma
yang berlaku dalam masyarakat, karena norma yang berlaku di tengah
masyarakat sering bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita
harus benar-benar menggunakan kriteria yang digariskan oleh Al-Qur'an dan
Sunnah Rasulullah SAW sejak awal memilih calon istri.

Bila langkah awal telah ditempuh dengan benar, kelak rumah tangga kita akan
dapat berjalan dengan serasi, harmonis, dan penuh kemesraan, karena
masing-masing mendasarkan langkah dan niatnya hanya karena Allah. Segala
bentuk kesulitan dan goncangan dalam mengayuh bahtera rumah tangga akan
dihadapi dengan penuh ketenangan dan pikiran jernih, karena kedua belah
pihak selalu pasrah dan berlindung pada kehendak dan kekuasaan-Nya. Sikap
semacam ini akan sangat membantu suamu istri dalam membina rumah tangga
sesuai dengan keridlaan Allah SWT.

Sebaliknya, istri tidak taat beragama, yaitu istri yang mengabaikan ajaran
agama, akan menyebabkan suami sulit membimbingnya dan sulit menciptakan
suasana rumah tangga yang islami. Bila suami dan istri sudah berlainan
langkah dalam menilai perbuatan halal dan haram atau baik dan buruk, hal
ini bisa menimbulkan pertengkaran dan perpecahan dalam berumah tangga.
Rumah tangga semacam ini sulit menjadi harmonis, tentram dan tenang.

Selain memberi dampak buruk bagi suami, istri yang tidak taat beragama akan
memberi dampak buruk pada pendidikan anak kelak. Ia tidak akan mendorong
anaknya untuk taat shalat dan rajin mengaji, tidak membiasakan salam ketika
keluar masuk rumah, tidak tahu membedakan najis dan suci, dan lain-lain.
Anak-anak yang tidak mengenal aturan agama semacam ini kelak setelah besar
mungkin sekali mudah terpengaruh oleh pergaulan yang buruk sehingga menjadi
orang yang rusak akhlaqnya dan mengabaikan agama. Oleh karena itu, besar
sekali bahaya istri yang tidak taat beragama untuk menjadi ibu bagi
anak-anak kita.

Agar kita dapat membentuk rumah tangga yang diridlai oleh Allah dan
memperoleh kebahagiaan sepanjang hayat sebelum mengambil seorang perempuan
menjadi istri kita perlu mengetahui ketaatannya dalam beragama. Ada
beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Mengamati caranya berpakaian, berias dan bergaul apakah sesuai dengan
ketentuan Islam atau tidak. Misalnya, mengamati apakah ia memakai muslimah
atau tidak, bersolek atau tidak, berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki
bukan mahram atau tidak.

2. Menanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, seperti kerabat
dekat, tetangga dekat, atau teman-teman dekat tentang ketaatannya
menjalankan shalat 5 waktu, ketaatannya menjalankan puasa Ramadhan,
sikapnya kepada tetangga atau para kerabatnya, sikapnya kepada orang yang
lebih tua, dan lain-lain.

3. Datang sendiri kepada keluarga perempuan untuk melakukan penelitian dan
pengamatan secara langsung. Dalam pertemuan ini, perempuan yang diinginkan
harus disertai dengan anggota laki-laki keluarganya, sehingga tidak terjadi
khalwat (berduaan). Pada saat inilah kita bisa meneliti berbagai hal yang
ingin diketahui dari perempuan tersebut agar kita memperoleh gambaran yang
jelas.

Cara-cara semacam inilah yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin dalam
menyediliki calon istrinya. Kita tak boleh melakukan cara-cara di luar
Islam, seperti berpacaran atau berkenalan di tengah jalan. Cara semacam ini
sama sekali tidak dibenarkan.

Ringkasnya, Laki-laki yang ingin membangun rumah tangga bahagia dan penuh
kesejateraan di dunia dan di akhirat hendaklah memilih perempuan yang taat
beragama untuk dijadikan istri. Insya Allah hidupnya akan bahagia.

Label:

posted by alpian uniska @ 02:11   0 comments
 
 
  19/05/09  
 
 
Surat Buat Kawan


Apa kabar, Kawan? Semoga sehat.
Mungkin kau bertanya tentang siapakah aku? Tetapi sungguh itu bukan soal penting yang harus kau ketahui. Bayangkan saja aku adalah seorang teman, yang tiba-tiba saja berkirim surat kepadamu.
Aku menulis surat ini di suatu tempat yang jauh. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin karena terlampau gairah. Bahagia. Untuk sesuatu yang nanti akan kau ketahui sendiri, bahwa ini semua bermula dari dirimu sendiri.
Surat ini aku tulis, ketika aku meniti kembali remang malam. Terjebak di labirin keasingan yang aneh. Perkembangan zaman begitu pesat. Hingga tak menyisakan satu ruang pun untuk lari.
*****
Baiklah, Kawan. Aku akan memulainya dengan sebuah fenomena di dunia tulis menulis. Bahwa kebanyakan penulis besar memulai karir kepenulisannya dengan catatan-catatan kecil dari apa yang mereka saksikan dan mereka rasakan dalam realitas kesehariannya.
Mari kita awali dari Newton.
Ketika Newton memaklumatkan sebuah teori yang kini dibaca banyak orang, sesungguhnya ia memulainya dengan sebuah penghayatan dan catatan tentang sebuah apel yang jatuh dari sebuah pohon. Kejadian biasa di keseharian. Dan mungkin bukan sesuatu yang aneh bagi orang-orang pada waktu itu, bahkan kita pun tentu akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Mungkin kita akan menyebutnya ”alamiah”, lumrah. Mungkin kita akan berkata, ”apa yang istimewa dari sebuah apel yang jatuh?”
Tapi tidak bagi Newton. Ia membuat sebuah pemikiran baru lewat sebuah pertanyaan: Bisakah apel tidak jatuh ke bawah? Ia tidak mempertanyakan; kenapa apel jatuh ke bawah?
Kita tidak akan berbicara teori gravitasi. Kita hanya akan bicara tentang paradigma keilmuan selalu dimulai oleh seorang ilmuwan, filosof atau pemikir dengan pemikiran yang serius dari apa yang terjadi di sekitar kehidupan mereka. Bukan kah Nabi Muhammad mendapatkan wahyu juga karena ia begitu banyak mempertanyakan realitas sosialnya. Sampai akhirnya beliau cenderung jadi orang yang bergulat dengan banyak pemikiran.
Stephen Hawking membuat teori tentang ”lubang hitam” yang menggemparkan itu tak serta merta mewujud begitu saja. Atau juga ketika bagaimana Toni Morisson mendapat penghargaan Nobel Sastra yang diimpikan banyak penulis dunia, sesungguhnya ia memulai semua itu dengan catatan-catatan kecil semasa sekolahnya.
Banyak contoh sebenarnya, yang aku sebutkan tadi adalah contoh dari sedikit orang. Sebenarnya akan lebih adil jika contoh itu diambil dari penulis Indonesia. Baiklah ini contoh terakhir. Aku ambil contoh penulis Indonesia yang fenomenal, yang buku-bukunya terjual dengan oplah yang sangat besar.
Emha Ainun Nadjib menurut HB Jassin adalah penulis jenius karena produktivitas dan style kebahasaannya. Kenapa ia bisa seperti itu? Sebab ia sangat intuitif untuk membuat catatan pergolakan pemikirannya sejak ia masih SMA. Emha selalu menulis di mana saja; di bangku sekolah, di bus, di tempat ia nongkrong, di tempat ramai, di tempat sepi, di tempat suci, sampai di terminal. Dengan cara itu ketajaman intuisinya terlatih. Ia cerdas mencermati dan menelaah permasalahan-permasalahan sosialnya.
Pada awalnya, mungkin Emha tak tahu buat apa tulisan itu. Perjalanan waktu kemudian membuktikan bahwa catatan-catatan itu bermanfat sebagai bahan-bahan yang sangat kaya dalam tulisan-tulisannya.
*****
Aku percaya bahwa kau bisa berbuat sesuatu untuk dirimu sendiri, keluarga, masyarakat, dan dunia ini dengan menuliskan sesuatu. Tentang apa? Apa saja yang kau rasakan, kau pikirkan, dan kemudian tulis.
Bagaimana memulainya? Tidak terlalu sulit sebenarnya bagi mereka yang serius. Yang penting itu tadi, mulailah dengan membuat catatan pergolakan pemikiran dan perasaan tentang realitas. Tidak melulu harus bertema besar. Ambil saja masalah-masalah kecil yang dilupakan banyak orang, tetapi sebenarnya penting untuk dikaji ulang. Dan ingat, sekecil apapun catatan itu, jangan dibuang. Suatu saat catatan itu akan menjadi kekayaan kita yang paling berharga.
Satu lagi; intensitas dan terus menulis adalah hal yang sangat penting. Artinya di situ kita berani memposisikan diri bahwa kita serius ingin menjadi penulis. Dan ibarat seseorang yang ingin jago dalam memainkan sesuatu maka ia harus sering berlatih.
Michael Jordan menjadi jago bermain basket karena ia berpikir bahwa ia berprofesi sebagai seorang pemain basket. Maka ia berlatih hampir lima jam sehari. Maradona menjadi seorang masterpiece di bidang sepak bola karena ia berlatih hampir lima hari dalam seminggu.
Oke, kawan. Aku bukan berarti menuntutmu untuk menjadi penulis. Tetapi betapa banyak kemungkinan dalam hidup ini untuk kita lakukan. Dan itu juga karena aku tahu, kau bisa melakukannya.
Aku agak tergesa harus segera berangkat ke suatu tempat. Lain waktu mungkin kita bisa bertemu. Lain waktu aku ingin bercakap banyak.
Sukses selalu untukmu, Kawan.

Label:

posted by alpian uniska @ 06:02   0 comments
 
 
   
 
 
Jatuh Cinta

“Jatuh cinta berjuta rasanya …”, begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta pun terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini.
Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan dan ditebak, karena penuh dengan gejolak. Semua saran dan nasihat ditolak, bahkan nalar pun bisa terdepak oleh perasaan mabuk kepayang yang membikin rasa melayang-layang. Itulah dahsyatnya perasaan yang satu ini. Gedubrak !!!
Apakah karena itu kita tak boleh mencintai dan dicintai? Uups…tentu saja boleh, karena cinta adalah pemberian Allah SWT. Mencintai dan dicintai adalah karunia, sekaligus panggilan hidup kita. Tak pernah merasakan jatuh cinta, bukanlah manusia, karena manusia pasti merasakan cinta [QS Al Imran:14] Bahkan, cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk kelestarian ummat manusia.
Islam juga gak phobi sama yang namanya cinta kok, bahkan Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun, bukan dalam komoditas rendah dan murah lho. Artinya, tingkatan mencintai sesuatu itu ada batasnya. Jika cinta itu malah membawanya kepada perbuatan yang melanggar syariat, nah…kore wa dame da!*
Hmm…cinta itu katanya jelmaan perasaan jiwa dan gejolak hati seseorang, wuis…puitis banget! Nah, dalam Islam kalau kita merujuk QS: At Taubah 24, maka cinta dapat dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu:
Cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya
Cinta kepada orangtua, istri, kerabat dan seterusnya
Cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak istri melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.
Lalu gimana dong, kalau cinta itu datang, menghampiri dan menggoda di luar pernikahan? Nah lho, puyeng deh kalo gini! Padahal cinta itu kan timbul memang dari sononya, muncul dari segi zat atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Normal aja kan, jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah, masa’ sih dibilang jelek!
Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, “Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.”
Waduh…gimana dong, lagi jatuh cinta nih! Problem…problem… mana masih kuliah, kerjaan belon ada, masih numpang ama orangtua, wah…nih cinta kok gak pengertian ya!
Kalem dong, jangan blingsatan begitu. Emangnya jatuh cinta masalah kamu aja, ya…gak lagi! Nabi Yusuf a.s. aja pernah jatuh cinta lho, bahkan kepada seseorang wanita yang telah menjadi istri seseorang. Eits…protes deh! Iya deh, kalau bukan cinta, paling gak, tertarik dan terpesona, boleh kan?
Buka deh surat Yusuf, romantika kisah beliau diceritakan dengan tuntas, awal, proses, konflik hingga klimaks dan ending-nya. Nah lho…Nabi aja bisa punya ‘konflik’ seperti itu, apalagi kamu, iya kan? Romantika cinta beliau bukan kacangan, atau pepesan kosong, namun apa yang dialami beliau bisa menjadi pelajaran buat kita bagaimana kalau cinta itu demen banget menggoda kita. Beliau sadar, dan mengerti betul bahwa itu terlarang, meski ada gejolak di hatinya [QS Yusuf: 24]
Namun… Kondisi di atas itu gak terjadi begitu aja lho, karena sebelumnya Nabi Yusuf a.s. pun telah berusaha untuk menolaknya saat wanita itu terus merayunya. Eh…nabi Yusuf pun dikejarnya, dan yang dikejar malah lari terbirit-birit, wuus…
Lantas apa dong pelajaran yang bisa kita ambil, saat cinta itu menggoda kita? Pelajarannya adalah:
Setiap orang memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, perasaan ini manusiawi, fitrah sekaligus anugerah.
Namun, gejolak itu harus diatur lho, kalau gak maka kita akan terperosok ke jurang kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwanya. Lantas jadi merana deh, angan-angan melulu. Innan nafsa la ammaaratun bis-suu, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu-nafsu yang diberi rahmat oleh Allah [QS Yusuf:53].
Kalau kita jatuh cinta pada lawan jenis, dan mengharapkan terbalaskan cintanya, maka saat itu ada sebagian dari akal dan logika yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang dipunyai jadi ngadat, gak jalan! Gak percaya? Coba deh, ntar kalau kamu tambah dewasa, udah nikah, mungkin mikir, “Kok, dulu begitu ya?”, “Kok, dulu gak mikir ya?”, dan “kok-kok” yang lain.
Dulu waktu ngejar-ngejar, wah…dimana-mana hanya terpampang wajah dia seorang, kekasih hati. Tidur gak nyenyak, makan pun terasa gak enak, bukan karena banyak nyamuk atau lauknya gak enak, dunia ini pun hanya untuk berdua, yang lain ngontrak, ck…ck…ck… Kalau gak ketemu, rasanya gimana gichuu. Dikejar setengah mati deh, pokoke mesti dapet! Tapi begitu udah dapat, lalu masuk dunia rumah tangga, gejolak itu bisa berganti dengan rutinitas dan bisa bosan. Itulah sifat manusia, karena itu bila mencintai seseorang, cintailah sewajarnya, siapa tahu ntar kamu benci padanya. Begitu juga sebaliknya, kalau benci, bencinya yang wajar aja deh, siapa tahu ntar malah jatuh cinta
Ingat lho, gak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi, kalau gak mau dibilang egois. Tidak semua cita-cita itu harus terkabul, dan tidak pula semua gejolak harus dituruti. Di dunia ini ada banyak pilihan, kalau gak dapat yang satu, pilihan lain masih banyak kan? Siapa tahu malah lebih baik. Makanya buka mata lebar-lebar, masa’ sih cuma ada dia aja di dunia ini, emang yang lain kemana bo!
Tidak semua yang kita anggap baik itu baik, dan tidak semua yang dianggap indah itu indah. Segala sesuatu itu pasti ada cacat dan cela-nya. Saat jatuh cinta sih, wuah…indah buanget, tiada cacat dan cela. Padahal bisa aja kan, cacat dan cela itu jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.
Akhirnya, kalau kamu udah sampai pada puncak cinta, yaitu pernikahan, ingat deh kalo puncak masalah pernikahan itu bukanlah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi gimana agar kita bisa survive di dalamnya, siapapun pasangan kita.
Semoga membantu akhi wa ukhti, jangan lupakan Allah SWT kalau antum jatuh cinta ya. Jatuh cinta-lah karena Allah SWT, karena kasih sayangnya akan meluruh ke jiwa.
Wallahu a`lam bis-shawab.

Label:

posted by alpian uniska @ 02:05   0 comments