 |
| |
| tTg qW |
nAMa: alpian uniska
hOme: Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia
tTg qW:
Push-Button Publishing
|
| ceLoteh qW |
|
| Archives |
|
| TentaNk sYa |
...... |
| Links |
|
|
 |
|
|
|
 |
|
 |
| |
| |
23/10/09 |
|
 |
|
 |
| |
| *Ketika mahasiswa belajar berbisnis* |
Merancang bisnis untuk kebutuhan mahasiswa? Tidak aneh. Tapi, ketika mahasiswa belajar berbisnis, kita perlu angkat topi untuk jerih payah mereka. Sebab, tidak mudah mengalokasikan sebagian besar waktu untuk mengurusi bisnis di tengah kesibukan kuliah.
Anak kos. Demikian orang sering menjuluki mahasiswa yang hidup di perantauan. Mereka butuh tempat tinggal permanen untuk beberapa waktu. Anak kos, tidak selalu identik dengan mahasiswa, karena ada juga yang sudah bekerja.
Ada pula yang bilang kehidupan mahasiswa ibarat mahluk semi independen. Sebagian waktu mereka digunakan untuk mengasah pikiran sebebas-bebasnya. Namun sebagian kebebasannya juga harus rela dibatasi oleh faktor finansial karena direnggut kebutuhan hidup dan urusan kampus.
Di antara mahasiswa itu, ada yang kreatif bahkan super kreatif dalam mencari solusi sumber pendanaan mereka yang cekak. Mereka tidak mau lagi berpangku tangan dan berharap dari bantuan orangtua atau pertolongan sanak famili.
"Manfaat yang langsung gue rasakan tentu uang saku jadi bertambah daripada sebelum menjalankan bisnis," kata Teja, yang semester lalu bersama lima orang temannya mulai merintis bisnis rental DVD.
Mahasiswa yang kampusnya mejeng di sekitar Kemanggisan ini, tertarik membuat usaha sendiri karena terinspirasi oleh sebuah seminar bisnis yang pernah dia ikuti. "Gerah juga kalau gue terus-terusan di kos kagak ada yang bisa dikerjain," kata anak dari ayah yang juga seorang pebisnis.
Lain Teja, lain pula Yanto. Yanto, mahasiswa jurusan disain komunikasi visual, Universitas Indra Prasta, Jakarta ini, tergolong dari keluarga yang pas-pasan. Dia hanya menjual keahlian disainnya untuk mencari tambahan penghasilan.
Sebelum menyandang gelar 'terhormat' sebagai mahasiswa, Yanto terbiasa mandiri. Sadar akan keterbatasan finansial orangtuanya, Yanto bekerja di perusahaan penerbitan sebagai ilustrator buku-buku pelajaran.
Uang yang terkumpul dari jerih payahnya bekerja, dia gunakan untuk modal kuliah. "Setelah kuliah dan ada sedikit modal, saya mulai berbisnis dengan mengandalkan kemampuan yang saya miliki," kata pria yang membuka jasa disain grafis ini.
Anda tentu masih ingat Louis Tendean, orang yang kini menjadi salah satu manusia super kaya dalam bisnis jaringan (network marketing) di Indonesia. Louis merintis bisnis MLM sejak berstatus mahasiswa di sebuah universitas swasta di Bandung.
Menurut dia, MLM adalah bisnis besar namun dengan modal sangat kecil, yang dapat dijalankan oleh siapa saja termasuk para mahasiswa. "Awalnya saya ditawarin sama teman kos untuk bisnis MLM ini, dan saya langsung tertarik. Kenapa? Soalnya MLM bisa membuat kita kaya tanpa modal," cetus Louis.
*Peluang & risiko*
Selain memupuk sikap mental mandiri sejak dini, sehingga tidak menggantungkan penghasilan dari orang lain, tercukupinya kebutuhan keuangan merupakan sesuatu yang bisa diraih.
"Belajar berbisnis sendiri sejak awal bisa menciptakan alternatif sumber penghasilan selepas kuliah nanti," kata Pietra Sarosa, Managing Partner Sarosa Consulting Group.
Pietra mengemukakan contoh-contoh peluang bisnis yang bisa dikerjakan untuk anak-anak kos. Misalnya rental vcd, pengetikan dan rental komputer, warnet, waning cuci, warteg, disain grafis, pencetakan & sablon, persewaan komik, jual buku bekas, event organizer, MLM, dll.
Singkatnya, karena anak kos biasanya adalah mahasiswa, target pasar yang paling dikenali tidak-jauh-jauh dari 'spesies' mereka sendiri. "Dan biasanya bisnis yang dibuka pun banyak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa," kata Pietra.
Tapi jangan lupa ketika hendak mulai bisnis. Anak kos perlu memperhitungkan waktu antara aktivitas kuliah, kerja, dan bisnis. "Ingat, sehari hanya 1x24 jam. Jangan sampai kegiatan itu merusak keseimbangan aktivitas Anda," saran konsultan bisnis ini. I
Karena itu, sambung dia, anak kos harus ekstra ketat dalam membagi waktu. Setidaknya mereka harus menyempatkan diri untuk mengurusi dan mengontrol bisnisnya. "Masalah operasional sehari-hari bisa mempekerjakan orang yang bisa dipercaya, misal untuk menjaga warnet, dsb," kata dia.
Rambut boleh sama hitam tapi keinginan orang bisa macam-macam. Mungkin ada orangtua yang tidak setuju jika anaknya berbisnis dengan berbagai alasan, seperti takut kuliahnya keteteran, penghasilan yang tidak pasti, buang-buang waktu, takut rugi, faktor gengsi ketimbang kerja kantoran, dst.
Karena itu, Anda perlu menyiapkan kiat untuk mengatasi kendala yang muncul secara tak terduga. Sebab dari sisi bisnis, usaha yang digarap oleh anak kos bukannya tanpa persaingan. "Persaingannya justru sangat ketat. Kita juga hares bersaing dengan pebisnis di luar lingkup anak-anak kos. Mereka lebih profesional," kata Teja.
Pietra memberi tips biar pelanggan tidak kabur, pebisnis perlu menghitung secara cermat kompetisi harga di sektor bisnisnya mengingat segmen pelanggannya biasanya mahasiswa yang mayoritas berkantong cekak. "Selisih harga sedikit saja pelanggan bisa kabur," ujar Pietra mengingatkan.
Eit jangan lupa. Sedari mahasiswa biasakan juga memberikan pelayanan bisnis yang baik kepada para konsumen. Pelayanan juga merupakan aspek penting yang harus diperhatikan karena mahasiswa yang menggunakan jasa bisnis Anda rata-rata agak "kritis" (baca: rewel). Maunya murah tapi bagus. (*)
Mahasiswa berbisnis: Ini dia peluangnya:
- Rental vcd & dvd - Pengetikan & rental komputer - Warnet - Waning cud (laundry) - Warteg - Disain grafis - Sablon & percetakan - Persewaan komik - Jual buku bekas - Event organizer - MLM - Rental playstation - Catering - dll |
posted by alpian uniska @ 06:25  |
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
 |
|